Langsung ke konten utama

Marxisme dalam Pandangan Kaum Intelektual

 Hingga hari ini di hadapan masyarakat kita masih tersaji isu kebangkitan komunisme di Indonesia. Komunisme dipandang sebagai sebuah ideologi yang buruk, sangat meterialis, anti pancasila, bahkan sebagian kalangan menyebutnya mengandung paham atheisme. Pandangan buruk mengenai komunisme tersebar di kalangan masyarakat melalui media dan pemerintah sebagai paradigma yang cenderung dipaksakan, karna menampilkan sisi buruknya saja, tanpa menghadirkan latar belakang munculnya paham ini.

Paradigma yang dipaksakan ini telah berhasil membentuk kekhawatiran dalam masyarakat kita, terutama mereka yang tidak memahami latar belakang ideologi ini. Pemerintah, sebagai pihak berkuasa melakukan upaya ‘perlindungan’ terhadap masyarakat yang sedang ‘khawatir’ ini, dengan melakukan berbagai cara hingga menarik buku-buku berhaluan kiri dari peredaran. Dengan dilarangnya peredaran buku-buku berhaluan kiri, masyarakat seolah-olah dilarang untuk berpikir, mencari tahu, bersikap kritis, dan melakukan tinjauan akademis. Masyarakat kita seperti didorong masuk ke dalam lorong bernama kebodohan. Hal ini pada akhirnya membentuk masyarakat yang anti-komunisme, namun seolah berupaya untuk meniadakan sikap kritis masyarakat.

Masyarakat Indonesia diajak untuk melihat komunisme melalui sudut pandang yang sempit, hanya lewat peristiwa yang terjadi berpuluh-puluh tahun lalu, seperti pemberontakan PKI. Padahal, untuk memahami dasar pemikiran komunisme secara utuh, kita mesti kembali ke tahun 1825-an setelah munculnya revolusi industri. Lantas, pertanyaan yang mesti dijawab, apakah komunisme begitu berbahaya sehingga pemerintah melakukan cara-cara demikian untuk menjauhkan paham ini dari masyarakat? Benarkah komunisme merupakan paham ateis, materialis, dan bertentangan dengan nilai-nilai pancasila? Pertanyaan-pertanyaan ini yang ingin dijawab melalui tulisan ini.

Latar Belakang Komunisme

Seperti yang telah diungkapkan, bahwa kita tidak dapat memahami seutuhnya paham komunisme melalui sudut pandang sempit yang didasari oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi puluhan tahun lalu saja. Jauh sebelum itu, dasar pemikiran komunisme sebenarnya adalah gagasan sosialisme yang muncul di Inggris dan Perancis sekitar tahun 1825-an ketika kapitalisme sedang berkembang di Eropa Barat sebagai dampak dari revolusi industri. Ketika itu, pembangunan mulai terpusat di kota-kota besar, industrialisasi berkembang pesat, terjadi urbanisasi besar-besaran, karena para petani dipaksa meninggalkan lahan mereka yang telah digunakan untuk membangun pabrik industri, dan kemudian beralih profesi menjadi buruh. Perubahan cepat yang terjadi mengakibatkan kemiskinan, penggusuran, dan eksploitasi besar-besaran tenaga kerja oleh kaum kapital. Bahkan, seorang buruh dikatakan tidak dapat membeli roti, yang ia buat sendiri. Kaum buruh menjadi produsen, sekaligus konsumen.

Sebagai reaksi terhadap kondisi ini, seorang tokoh sosialis asal Prussia bernama Karl Marx kemudian melancarkan kritik terhadap sistem kapitalisme yang sedang berkembang melalui karya-karyanya yang terkenal, yaitu Communist ManifestodanDas Capital. Kritik ini kemudian dikembangkan menjadi paham yang disebut Marxisme. Dasar dari pemikiran Marxisme maupun Komunisme berasal dari gagasan Sosialisme, yakni suatu pemikiran mengenai perubahan ekonomi yang dilandasi moral kemasyarakatan, dan bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat. Menurut Marx, kapitalisme melahirkan kelas-kelas dalam masyarakat, yaitu masyarakat borjuis dan masyarakat proletar. Maka, konsep utama dari pemikiran Marx adalah masyarakat tanpa kelas, stratifikasi, dan diferensiasi sosial. Manusia haruslah memiliki derajat yang sama. Pada akhirnya, konsep ini mengarah pada masyarakat tanpa otoritas.

Melalui gagasannya, Karl Marx berusaha mengangkat derajat dan menghilangkan penindasan yang dialami kaum buruh dan petani. Menurutnya, upaya ini haruslah ditempuh melalui revolusi perjuangan kelas. Karena itulah, simbol yang biasa digunakan oleh para penganut paham Komunisme dan Marxisme adalah palu dan arit. Simbol palu merepresentasikan perjuangan kaum buruh, dan simbol arit merepresentasikan perjuangan kaum petani, yang merupakan kaum proletar tertindas. Simbol ini sama sekali tidak merepresentasikan kelaliman seperti anggapan sebagian kecil masyarakat.

Marxisme dan Materialisme

Memang benar, salah satu yang mendasari paham Marxisme adalah Materialisme. Akan tetapi, materi dalam konsep pemikiran Marx bukanlah materi yang didehumanisasikan. Marx merujuk pada anggapan-anggapan dasar tentang cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam pemikiran Marx, manusia harus memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja, dan dengan memenuhi kebetuhan hidupnya manusia dapat menampilkan keberadaannya. Pemenuhan kebutuhan hidup merupakan kegiatan sosial dan menyiratkan hubungan sosial. Dengan demikian, manusia menjadi sadar bahwa tanpa pemenuhan kebutuhan dan tanpa kehadiran orang lain, hidupnya menjadi minim makna.

Dampak atas kesadarannya sebagai makhluk sosial itu melahirkan pemikiran bahwa seorang individu bukan bekerja dan hidup untuk dirinya sendiri saja, namun juga untuk orang lain. Dalam masyarakat kapitalis, menurut Marx, para pekerja akan teralienasi atau terasing dengan dirinya dan masyarakatnya. Kehidupan buruh menjadi sengsara dan jauh dari konsep sesungguhnya sebagai makhluk sosial. Jadi, materialisme yang melandasi pemikiran Marx sebetulnya bertujuan untuk mengembalikan konsep manusia sebagai makhluk sosial.

Marxisme dan Agama

Karl Marx terkenal dengan ucapannya yang menyatakan bahwa “agama adalah candu”. Kalimat ini sering diinterpretasikan seakan-akan paham Marxisme dan Komunisme menuduh agama dan konsep ketuhanan sebagai sesuatu yang salah. Padahal, bukan itu yang dimaksud Marx. Marxisme tidak membicarakan apakah fungsi agama dalam masyarakat itu positif atau negatif. Yang dikritik Marx adalah pemahaman manusia, khususnya kaum proletar terhadap agama. Pada masyarakat kapitalis, agama dimanfaatkan oleh kaum kapital untuk secara tidak langsung menindas kaum proletar melalui keyakinan yang mereka anut.

Kaum kapital menyalahgunakan ajaran agama agar kaum proletar dapat bersikap sabar, pasrah, namun tetap melaksanakan tugasnya sebagai buruh, karena kerja keras, kesabaran, dan kepasrahan mereka akan dibalas oleh kenikmatan abadi di hari akhir. Ajaran ini kemudian menempatkan agama sebagai pelarian kaum proletar, karena di dunia nyata mereka tidak dapat memperoleh kebahagiaan, maka mereka berharap pada kebahagiaan lain di hari akhir. Pemahaman ini pada akhirnya membentuk sikap pasrah terhadap penindasan, dan menciptakan pemikiran yang menghambat mobilitas vertikal kaum proletar. Sehingga, ajaran agama yang disalahgunakan oleh kaum kapital ini membuat kaum buruh tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami penindasan. Agama yang semestinya dapat menjadi landasan perjuangan kelas dan mengajarkan kesetaraan derajat manusia di mata Tuhan, malah disalahgunakan oleh kaum kapital untuk mempertegas kelas di masyarakat.

Jika kita perhatikan lagi kerangka berpikirnya, Marx sebetulnya tidak bermaksud menyatakan secara langsung bahwa agama adalah salah, apalagi menyatakan keyakinan mengenai ketiadaan Tuhan. Yang ia kritik, pada dasarnya, bukan agama, melainkan cara pandang masyarakat kapitalis ketika itu yang keliru menafsirkan ajaran agama.

Asumsi masyarakat yang menyatakan bahwa para penganut komunisme adalah orang-orang atheis atau tidak beragama pun keliru. Di Indonesia, misalnya, kita mengenal seorang tokoh komunis muslim bernama Tan Malaka. Tan Malaka adalah ketua Partai Komunis yang juga aktif dalam Sarekat Islam. Pada Konferensi Komunis Internasional keempat di Moskow, Rusia, Tan menyatakan bahwa revolusi komunis di Hindia Timur perlu bergandengan dengan islam. Ia, ketika itu, meminta seluruh Ketua Partai Komunis di berbagai negara untuk mengoreksi sikap mereka atas pan-Islamisme.

Selain Tan Malaka, di Indonesia, kita juga mengenal tokoh pemikir sosialisme bernama Haji Oemar Said Tjokroaminoto, yang juga merupakan pemimpin Sarekat Islam. Ia berpendapat bahwa sosialisme sebetulnya berdasar pada asas-asas agama. Tjokroaminoto mengembangkan pemikiran sosialisme yang kemudian dikaitkan dengan nilai-nilai islam melalui bukunya “Islam dan Sosialisme”.

Jelaslah, bahwa sebetulnya, paham seperti Marxisme, Sosialisme, atau Komunisme sebenarnya tidak secara langsung menganggap yang diajarkan agama adalah salah, apalagi menyatakan keyakinan mengenai ketiadaan Tuhan, pun keliru ketika kita menganggap bahwa orang-orang yang meyakini paham komunisme adalah atheis dan tidak beragama. Pada dasarnya, bukan agama atau konsep ketuhanan yang dianggap salah, melainkan cara pandang manusia, khususnya masyarakat kapitalis yang keliru menafsirkan dan menyalahgunakan ajaran agama demi kepentingan kapitalisme.

Ideologi Kiri dan Nilai-Nilai Pancasila

Beberapa kalangan yang anti-komunisme menganggap bahwa ideologi kiri seperti Sosialisme, Marxisme, dan Komunisme bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Padahal, saat sidang paripurna Kabinet Dwikora, Soekarno sang konseptor Pancasila pernah menyatakan bahwa Pancasila sangat dekat dengan ideologi kiri. Bagi Soekarno, kiri tidak hanya anti imperialisme, namun juga menghendaki suatu masyarakat yang adil, tanpa kapitalisme, dan tanpa penindasan manusia terhadap manusia lain. Menurut Soekarno, unsur utama Pancasila adalah keadilan sosial. Lima sila dalam Pancasila dapat diperas menjadi tiga prinsip, yaitu sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan Ketuhanan. Sosio-nasionalisme menolak paham kapitalisme.
Soekarno berpendapat bahwa kekuasaan ekonomi dan politik seharusnya berada di tangan kaum tertindas, yakni kaum buruh dan petani, agar perjuangan menghapus kapitalisme dan imperialisme di Indonesia dapat dituntaskan. Inilah esensi sosio-demokrasi yang merupakan antitesa dari demokrasi borjuis yang memelihara ketidaksetaraan di bidang ekonomi. Nilai-nilai Sosialisme yang menjadi dasar pemikiran Marx juga dapat ditelusuri dalam sila kedua dan sila kelima yang menyatakan bahwa manusia Indonesia mestilah diperlakukan berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan yang humanis agar terwujud keadilan dan kesejahteraan umum bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jadi, masyarakat tidak akan dapat memahami Komunisme secara utuh jika tidak terlebih dulu mengetahui pemikiran Karl Marx yang menjadi landasan ideologi ini. Tujuan sebenarnya dari gagasan Karl Marx adalah masyarakat tanpa stratifikasi dan tanpa otoritas. Oleh karena itu, otoritarianisme sebenarnya bertentangan dengan tujuan akhir pemikiran ini. Meskipun pada implementasinya paham komunisme menuai kritik karena dianggap sebagai pemicu hidupnya otoritarianisme dan memunculkan berbagai pergolakan, sebenarnya ideologi ini dilandasi oleh dasar moral kemasyarakatan yang pada intinya bertujuan mensejahterakan masyarakat.

Upaya pemerintah untuk ‘menjauhkan’ paham komunisme dari masyarakat yang ‘khawatir’ hingga melakukan penarikan buku-buku berhaluan kiri dari peredaran, hingga melibatkan militer dan kepolisian merupakan upaya yang berlebihan. Lagipula, upaya seperti ini malah menjauhkan sikap kritis masyarakat. Masyarakat seolah-olah dilarang untuk berpikir, mencari tahu, dan mangkaji secara akademis.

Masyarakat kita seperti diarahkan kepada kebodohan. Hal ini mengindikasikan bahwa isu komunisme yang diangkat ke permukaan merupakan bentuk pemaksaan paradigma. Tentunya hal ini bertentangan dengan kebebasan berpendapat masyarakat yang diatur oleh konstitusi. Pada akhirnya, isu atau propaganda apapun yang muncul di tengah masyarakat, sebaiknya disikapi secara kritis. Akan lebih baik jika isu yang dimaksud telah terlebih dulu dikaji secara akademis, sehingga pendapat-pendapat yang dikeluarkan sebagai bentuk reaksi nantinya dapat dipertanggungjawabkan landasan berpikirnya.


Penulis : Faqih Hindami, Mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia
Penyunting : HIMASTAT FMIPA UNM Periode 2017-2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH UKURAN GEJALA PUSAT

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Statistik   adalah sekumpulan prosedur untuk mengumpulkan, mengukur, mengklasifikasi, menghitung, menjelaskan, mensintesis, menganalisis, dan menafsirkan data kuantitatif yang diperoleh secara sistematis. Secara garis besar, statistik dibagi menjadi dua komponen utama, yaitu   Statistik Deskriptif   dan   Statistik inferensial .   Statistik deskriptif menggunakan prosedur numerik dan grafis dalam meringkas gugus data dengan cara yang jelas dan dapat dimengerti, sementara   Statistik inferensial   menyediakan prosedur untuk menarik kesimpulan tentang populasi berdasarkan sampel yang kita amati. Statistik Deskriptif membantu kita untuk menyederhanakan data dalam jumlah besar dengan cara yang logis. Data yang banyak direduksi dan diringkas sehingga lebih sederhana dan lebih mudah diinterpretasi . Statistika deskriptif juga memberikan informasi hanya mengenai data yang dipunyai dan sama sekali ...

TIPE DATA DALAM STATISTIKA

Sebelum melakukan analisis data, kita perlu mengetahui tipe dari data yang akan kita analisis. Hal ini mempengaruhi metode statistika apa yang sesuai untuk data tersebut. Statistika, secara umum mengenal beberapa tipe data, yaitu: Rasio . Merupakan tingkatan tipe data tertinggi. Disebut paling tinggi karena fleksibilitasnya dipandang dari sisi matematis. Ciri-ciri tipe data rasio adalah memiliki satuan, misal: cm, kg, km, dB, inchi, Rupiah, dll. Dengan demikian, 10 satuan bila dibandingkan dengan 1 satuan berarti 10 kali. Jadi, 10 km berarti 10 x 1 km. Bila asumsi kenormalan data terpenuhi, tipe data rasio sangat layak dianalisis menggunakan metode statistika parametrik. Ringkasannya adalah sebagai berikut: ·     memiliki satuan ·     dapat dibandingkan, misal: 10 km berarti 10 kalinya 1 km ·    memiliki nilai nol mutlak, yaitu: nilai nol berarti tidak ada. Misal: 0 kg berarti tidak ada    ...